KALIMAT EFEKTIF
BAHASA INDONESIA
Yang dibimbing oleh
dosen Kusmadiono
Di susun oleh kelompok 3 :
-Akhmad Anas Mughni
-Arvin Firmansyah Islam
-Aryanto Faisal
-Bagus Amin Sulistyono
-M. Misbahul
-Roma Setiawan
-Slamet Cahyono
UNIVERSIATAS BRAWIJAYA
MALANG
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat
Tuhan Yang Maha Esa, karena kami dapat menyelesaikan Makalah ini. Penyusunan
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas Bahasa Indonesia tentang Kalimat
Efektif. Selain itu tujuan dari penyusunan Makalah ini juga untuk menambah
wawasan tentang pengetahuan Bahasa secara meluas.
Dalam menyelesaikan Makalah ini,
Kami telah banyak mendapatkan bantuan dan masukan dari berbagai pihak. Oleh
karena itu, dalam kesempatan ini kami ingin menyampaikan banyak terima kasih
kepada :
1. Bapak Kusmadiono selaku Dosen mata
kuliah Bahasa Indonesia yang telah memberikan tugas mengenai makalah ini
sehingga pengetahuan kami dalam penulisan Makalah ini semakin bertambah.
2. Kedua orang tua kami, yang
senantiasa memberikan do’a serta dukungan baik moril maupun materil.
3. Teman-teman kami yang telah
memberikan semangat dan dukungan sehingga kami dapat menyelesaikan Makalah ini.
4. Pihak-pihak yang tidak dapat kami
sebutkan satu persatu, yang turut membantu penyusunan Makalah ini.
Kami menyadari dalam penulisan
Makalah ini masih banyak kekurangan dalam penulisan maupun penyusunan. Oleh
karena itu kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun guna memperbaiki
kesalahan dimasa yang akan datang.
Malang,
27 September 2013
Kelompok
3
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR..........................................................................................
DAFTAR ISI..........................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN
I.1. Latar
Belakang......................................................................................
I.2. Rumusan
Masalah..................................................................................
I.3. Manfaat
Makalah...................................................................................
BAB II PEMBAHASAN
II.1 Pengertian Kalimat Efektif
...................................................................
II.2 Ciri-Ciri dan Contoh Kalimat
Efektif ...................................................
II.3 Jenis Kesalahan dalam Menyusun
Kalimat
Efektif
dan Pembetulannya...................................................................
II.4
Hal yang Mengakibatkan Suatu Tuturan
Menjadi
Kurang Efektif....................................................................
...
II.5 Pengertian dan Contoh Kalimat Turunan .......................................
.....
BAB III PENUTUP
III.1 Kesimpulan..............................................................................................
III.2. Saran.......................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA................................................................................................
BAB
I
Bahasa adalah alat untuk
berkomunikasi yang digunakan manusia dengan sesama anggota masyarakat lain
pemakai bahasa itu. Bahasa itu berisi pikiran, keinginan, atau perasaan yang
ada pada diri si pembicara atau penulis. Bahasa yang digunakan itu hendaklah dapat
mendukung maksud secara jelas agar apa yang dipikirkan, diinginkan, atau
dirasakan itu dapat diterima oleh pendengar atau pembaca. Kalimat yang dapat
mencapai sasarannya secara baik disebu tdengan kalima tefektif.
Kalimat efektif adalah kalimat
yang dapat mengungkapkan gagasan pemakainya secara tepat dan dapat dipahami
oleh pendengar/pembaca secara tepat pula. Kalau gagasan yang disampaikan sudah
tepat, pendengar/pembaca dapat memahami pikiran tersebut dengan mudah, jelas,
dan lengkap seperti apa yang dimaksud oleh penulis atau pembicaranya. Akan
tetapi, kadang-kadang harapan itu tidak tercapai. Misalnya, ada sebagian lawan
bicara atau pembaca tidak memahami apa maksud yang diucapkan atau yang
dituliskan.
Supaya kalimat yang dibuat
dapat mengungkapkan gagasan pemakainya secara tepat, unsur kalimat-kalimat yang
digunakan harus lengkap dan eksplisit. Artinya, unsur-unsur kalimat seharusnya
ada yang tidak boleh dihilangkan. Sebaliknya, unsur-unsur yang seharusnya tidak
ada tidak perlu dimunculkan. Kelengkapan dan keeksplisitan semacam itu dapat
diukur berdasarkan keperluan komunikasi dan kesesuaiannya dengan kaidah
(Mustakim,1994:86).
Dalam karangan ilmiah sering kita
jumpai kalimat-kalimat yang tidak memenuhi syarat sebagai bahasa ilmiah. Hal
ini disebabkan oleh, antara lain, mungkin kalimat-kalimat yang dituliskan
kabur, kacau, tidak logis, atau bertele-tele. Dengan adanya kenyataan itu,
pembaca sukar mengerti maksud kalimat yang kita sampaikan karena kalimat
tersebut tidak efektif. Berdasarkan kenyataan inilah penulis tertarik untuk
membahas kalimat efektif dengan segala permasalahannya.
1. Memahami pengertian Kalimat Efektif
2. Memahami ciri-ciri dan contoh
Kalimat Efektif
3. Memahami jenis kesalahan dalam
menyusun kalimat efektif dan pembetulannya
4. Memahami hal yang mengakibatkan
suatu tuturan menjadi kurang efektif
5. Memahami pengertian dan contoh
Kalimat Turunan ?
Adapun manfaat penulisan adalah sebagai berikut :
1. Memberikan informasi kepada pembaca
tentang Kalimat Efektif
2. Memberikan informasi kepada pembaca
tentang fungsi kalimat Efektif
3. Sebagai ajang berfikir ilmiah dan
kreatif bagi penulis dan pembaca
BAB
II
Kalimat efektif adalah kalimat yang
dapat mengungkapkan gagasan penutur/penulisnya secara tepat sehingga dapat
dipahami oleh pendengar/pembaca secara tepat pula. Efektif dalam hal ini adalah
ukuran kalimat yang memiliki kemampuan menimbulkan gagasan atau pikiran pada
pendengar atau pembaca. Dengan kata lain, kalimat efektif adalah kalimat
yang dapat mewakili pikiran penulis atau pembicara secara tepat sehingga
pndengar/pembaca dapat memahami pikiran tersebut dengan mudah, jelas dan
lengkap seperti apa yang dimasud oleh penulis atau pembicaranya.
II.2. Ciri-Ciri Kalimat Efektif dan
Contoh
II.2.1. Kesepadanan
Suatu kalimat efektif harus memenuhi
unsur gramatikal yaitu unsur subjek (S), predikat (P), objek (O), keterangan
(K). Di dalam kalimat efektif harus memiliki keseimbangan dalam pemakaian
struktur bahasa.
Contoh:
·
Budi (S) pergi (P) ke kampus (KT).
(Tidak Menjamakkan Subjek)
Contoh:
·
Tomi pergi ke kampus, kemudian Tomi
pergi ke perpustakaan (tidak efektif)
Tomi pergi ke kampus, kemudian ke
perpustakaan (efektif)
II.2.2. Kecermatan Dalam Pemilihan
dan Penggunaan Kata
Dalam membuat kalimat efektif jangan
sampai menjadi kalimat yang ambigu (menimbulkan tafsiran ganda).
Contoh:
Mahasiswa perguruan tinggi yang
terkenal itu mendapatkan hadiah (ambigu dan tidak efektif).
·
Mahasiswa
yang kuliah di perguruan tinggi yang terkenal itu mendapatkan hadiah (efektif).
II.2.3. Kehematan
Kehematan dalam kalimat efektif
maksudnya adalah hemat dalam mempergunakan kata, frasa, atau bentuk lain yang
dianggap tidak perlu, tetapi tidak menyalahi kaidah tata bahasa. Hal ini
dikarenakan, penggunaan kata yang berlebih akan mengaburkan maksud kalimat. Untuk
itu, ada beberapa kriteria yang perlu diperhatikan untuk dapat melakukan
penghematan, yaitu:
a. Menghilangkan pengulangan subjek.
b. Menghindarkan pemakaian superordinat pada hiponimi kata.
c. Menghindarkan kesinoniman dalam satu kalimat.
d. Tidak menjamakkan kata-kata yang berbentuk jamak.
Contoh:
·
Karena ia tidak diajak, dia tidak
ikut belajar bersama di rumahku. (tidak efektif)
Karena tidak diajak, dia tidak ikut
belajar bersama di rumahku. (efektif)
·
Dia sudah menunggumu sejak dari
pagi. (tidak efektif)
Dia sudah menunggumu sejak pagi.
(efektif)
II.2.4. Kelogisan
Kelogisan ialah bahwa ide kalimat
itu dapat dengan mudah dipahami dan penulisannya sesuai dengan ejaan yang
berlaku. Hubungan unsur-unsur dalam kalimat harus memiliki hubungan yang
logis/masuk akal.
Contoh:
·
Untuk mempersingkat waktu, kami
teruskan acara ini. (tidak efektif)
Untuk menghemat waktu, kami teruskan
acara ini. (efektif)
II.2.5.Kesatuan atau Kepaduan
Kesatuan atau kepaduan di sini
maksudnya adalah kepaduan pernyataan dalam kalimat itu, sehingga informasi yang
disampaikannya tidak terpecah-pecah. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan
untuk menciptakan kepaduan kalimat, yaitu:
a. Kalimat yang padu tidak bertele-tele dan tidak
mencerminkan cara berpikir yang tidak simetris.
b. Kalimat yang padu mempergunakan pola aspek + agen +
verbal secara tertib dalam kalimat-kalimat yang berpredikat pasif persona.
c. Kalimat yang padu tidak perlu menyisipkan sebuah kata
seperti daripada atau tentang antara predikat kata kerja dan objek penderita.
Contoh:
·
Kita harus dapat mengembalikan
kepada kepribadian kita orang-orang kota yang telah terlanjurmeninggalkan rasa
kemanusiaan itu. (tidak efektif)
Kita harus mengembalikan kepribadian
orang-orang kota yang sudah meninggalkan rasa kemanusiaan. (efektif)
·
Makalah ini membahas tentang
teknologi fiber optik. (tidak efektif)
Makalah ini membahas teknologi fiber
optik. (efektif)
II.2.6. Keparalelan atau Kesajajaran
Keparalelan atau kesejajaran adalah kesamaan
bentuk kata atau imbuhan yang digunakan dalam kalimat itu. Jika pertama
menggunakan verba, bentuk kedua juga menggunakan verba. Jika kalimat pertama
menggunakan kata kerja berimbuhan me-, maka kalimat berikutnya harus
menggunakan kata kerja berimbuhan me- juga.
Contoh:
·
Kakak menolong anak itu dengan
dipapahnya ke pinggir jalan. (tidak efektif)
Kakak menolong anak itu dengan
memapahnya ke pinggir jalan. (efektif)
·
Harga sembako dibekukan atau
kenaikan secara luwes. (tidak efektif)
Harga sembako dibekukan atau
dinaikkan secara luwes. (efektif)
II.2.7. Ketegasan
Ketegasan atau penekanan ialah suatu
perlakuan penonjolan terhadap ide pokok dari kalimat. Untuk membentuk penekanan
dalam suatu kalimat, ada beberapa cara, yaitu:
a. Meletakkan kata yang ditonjolkan itu di depan kalimat (di
awal kalimat).
Contoh:
·
Harapan kami adalah agar soal ini
dapat kita bicarakan lagi pada kesempatan lain.
Pada kesempatan lain, kami berharap
kita dapat membicarakan lagi soal ini. (ketegasan)
·
Presiden mengharapkan agar rakyat
membangun bangsa dan negara ini dengan kemampuan yang ada pada dirinya.
Harapan presiden ialah agar rakyat
membangun bangsa dan negaranya. (ketegasan)
b. Membuat urutan kata yang bertahap.
Contoh:
·
Bukan seribu, sejuta, atau seratus,
tetapi berjuta-juta rupiah, telah disumbangkan kepada anak-anak terlantar.
(salah)
Bukan seratus, seribu, atau sejuta,
tetapi berjuta-juta rupiah, telah disumbangkan kepada anak-anak terlantar.
(benar)
c. Melakukan pengulangan kata (repetisi).
Contoh:
·
Cerita itu begitu menarik, cerita
itu sangat mengharukan.
d. Melakukan pertentangan terhadap ide yang ditonjolkan.
Contoh:
·
Anak itu bodoh, tetapi pintar.
e. Mempergunakan partikel penekanan (penegasan), seperti: partikel
–lah, -pun, dan –kah.
Contoh:
·
Dapatkah mereka mengerti maksud
perkataanku?
·
Dialah yang harus bertanggung jawab
dalam menyelesaikan tugas ini.
II.3. Kesalahan dalam Menyusun
Kalimat Efektif dan Pembetulannya
II.3.1. Pleonastis
Pleonastis atau pleonasme adalah
pemakaian kata yang mubazir (berlebihan), yang sebenarnya tidak perlu.
Contoh-contoh kalimat yang mengandung kesalahan pleonastis antara lain:
·
Banyak tombol-tombol yang dapat Anda
gunakan.
Kalimat ini seharusnya : Banyak
tombol yang dapat Anda gunakan.
·
Kita harus saling tolong-menolong.
Kalimat ini seharusnya : Kita harus
saling menolong, atau Kita seharusnya tolong-menolong.
II.3.2. Kontaminasi
Contoh kalimat yang mengandung kesalahan kontaminasi dapat kita lihat pada
kalimat berikut ini:
·
Fitur terbarunya Adobe Photoshop ini
lebih menarik dan bervariasi.
Kalimat tersebut akan menjadi lebih efektif apabila akhiran
–nya dihilangkan. Sehingga menjadi :
·
Fitur terbaru Adobe Photoshop ini
lebih menarik dan bervariasi.
II.3.3. Salah pemilihan kata
Contoh kalimat yang mengandung kesalahan pemilihan kata dapat kita lihat pada
kalimat berikut ini:
·
Saya mengetahui kalau ia kecewa.
Seharusnya: Saya mengetahui bahwa ia kecewa.
II.3.4. Salah nalar
Contoh kalimat yang mengandung kesalahan nalar dapat kita lihat pada kalimat
berikut ini:
·
Bola gagal masuk gawang.
Seharusnya: Bola tidak masuk gawang.
II.3.5. Pengaruh bahasa asing atau
daerah (interferensi)
Bahasa Asing
Contoh kalimat yang mengandung kesalahan karena terpengaruh bahasa asing
terlihat pada kalimat berikut:
·
Saya tinggal di Semarang di mana
ibu saya bekerja.
Kalimat ini bisa jadi mendapatkan pengaruh bahasa Inggris, lihat terjemahan
kalimat berikut:
I live in Semarang where my mother work
Dalam bahasa Indonesia sebaiknya
kalimat tersebut menjadi:
Saya tinggal di Semarang tempat ibu saya bekerja.
Bahasa daerah
Contoh kalimat yang mengandung kesalahan karena terpengaruh bahasa daerah dapat
kita lihat pada kalimat berikut:
·
Anak-anak sudah pada datang.
Dalam bahasa Indonesia sebaiknya
kalimat tersebut menjadi:
Anak-anak sudah datang.
Contoh lain pengaruh bahasa daerah, khususnya bahasa Jawa, juga dapat kita
lihat pada kalimat berikut. Penulis menemukan contoh ini dari sebuah rubrik di
tabloid anak-anak Yunior.
·
Masuknya keluar mana? (Jawa: Mlebune
metu endi?)
Kita sebaiknya mengganti kalimat
tersebut dengan: Masuknya lewat mana?
II.3.6. Kata depan yang tidak perlu
Sering kali kita membuat kalimat yang mengandung kata depan yang tidak perlu
seperti pada kalimat berikut:
Contoh :
·
Di program ini menyediakan berbagai
fitur terbaru.
Agar menjadi efektif, sebaiknya kita menghilangkan kata depan di, sehingga
kalimatnya menjadi:
Program ini menyediakan berbagai
fitur terbaru.
II.4. Hal yang Mengakibatkan Suatu
Tuturan Menjadi Kurang Efektif
Ada beberapa hal yang mengakibatkan suatu tuturan menjadi kurang efektif,
antara lain
II.4.1. Kurang padunya kesatuan gagasan.
Setiap tuturan terdiri atas beberapa
satuan gramatikal. Agar tuturan itu memiliki kesatuan gagasan, satuan-satuan
gramatikalnya harus lengkap dan mendukung satu ide pokoknya. Kita bisa melihat
pada contoh berikut:
Program aplikasi MS Word dapat Anda
gunakan sebagai pengolah kata. Dengan program ini Anda dapat melakukan berbagai
aktivitas perkantoran seperti mengetik surat atau dokumen. MS Word adalah
produk peranti lunak keluaran Microsoft.
Kalimat-kalimat pada contoh tersebut tidak mempunyai kesatuan gagasan.
Seharusnya setelah diungkapkan gagasan tentang “fungsi MS Word” pada kalimat
pertama, diungkapkan gagasan lain yang saling bertautan.
II.4.2. Kurang ekonomis pemakaian kata.
Ekonomis dalam berbahasa berarti penghematan pemakaian kata dalam tuturan.
Sebaiknya kita menghindari kata yang tidak diperlukan benar dari sudut
maknanya, misalnya:
·
membicarakan tentang transmigrasi
Seharusnya: membicarakan transmigrasi
·
sudah pada tempatnya apabila
Seharusnya: sudah selayaknya apabila
·
Depresi ekonomi bukan hanya
dirasakan oleh kaum pribumi lapisan bawah, tetapi juga dirasakan oleh kelompok
elite pribumi.
Seharusnya: Depresi ekonomi dirasakan oleh kaum pribumi lapisan bawah dan kelompok
elite.
Atau: Depresi ekonomi dirasakan kaum pribumi di semua lapisan.
II.4.3. Kurang logis susunan gagasannya.
Tulisan dengan susunan gagasan yang kurang logis dapat kita lihat pada contoh
berikut:
Karena zat putih telurnya itulah
maka telur dan dagingnya ayam itu sangat bermanfaat untuk tubuh kita. Semua
makhluk dalam hidupnya memerlukan zat putih telur, manusia untuk melanjutkan
hidupnya perlu akan zat putih telur.
Kita dapat membuat tulisan itu menjadi efektif seperti
berikut:
Semua makhluk hidup memerlukan zat
putih telur yang berasal dari telur dan daging ayam. Manusia adalah makhluk
hidup. Jadi, manusia memerlukan zat putih telur yang berasal dari telur dan
daging ayam untuk melanjutkan hidupnya. Dapat dikatakan bahwa telur dan daging
ayam sangat bermanfaat bagi tubuh.
II.4.4. Pemakaian kata-kata yang kurang sesuai ragam bahasanya.
Pemakaian bahasa tidak baku hendaknya dihindari dalam ragam
bahasa keilmuan.
·
Penulis menghaturkan terima kasih kepada
Bapak Prof. Dr. Gatot A.S atas bimbingannya dalam menyelesaikan buku ini.
·
Sehubungan dengan hal itu Takdir
Alisyahbana bilang bahwa hal bahasa Indonesia dapat menjadi bahasa
internasional.
Pemakaian kata menghaturkan dan bilang tidak tepat untuk
ragam bahsa keilmuan, sehingga kata-kata tersebut sebaiknya diganti dengan
mengucapkan dan mengatakan.
II.4.5. Konstruksi yang bermakna
ganda.
Suatu kalimat dipandang dari sudut tata bahasanya mungkin tidak salah, namun
kadang-kadang mengandung tafsiran ganda (ambigu) sehingga tergolong kalimat
yang kurang efektif. Kalimat yang memiliki makna ganda dapat kita lihat pada
kalimat-kalimat:
·
Istri kopral yang nakal itu membeli
sepatu.
Unsur yang nakal itu menerangkan istri atau kopral ? Jika yang dimaksud nakal
adalah istri, maka kalimat itu seharusnya menjadi:
Istri yang nakal kopral itu membeli sepatu.
· Penyuluh menerangkan cara beternak
ayam baru kepada para petani.
Kata baru pada kalimat itu menerangkan kata ayam atau cara beternak? Jika kata
baru menerangkan cara beternak, kalimat itu menjadi lebih baik seperti kalimat
berikut:
Penyuluh menerangkan cara baru beternak ayam kepada para petani.
II.4.6. Penyusunan kalimat yang kurang cermat.
Penyusunan yang kurang cermat dapat mengakibatkan nalar yang terkandung di
dalam kalimat tidak runtut sehingga kalimat menjadi kurang efektif.
·
Tugas kemanusiaan dalam suatu
jabatan ialah untuk mengelola sejumlah manusia memerlukan keprihatinan serta
dedikasi yang tangguh.
Kalimat tersebut dapat diperbaiki seperti berikut:
Tugas kemanusiaan dalam suatu
jabatan, yakni pengelolaan sejumlah manusia, memerlukan keprihatinan serta
dedikasi yang tangguh.
Tugas kemanusiaan dalam suatu jabatan ialah pengelolaan sejumlah manusia. Hal
ini memerlukan keprihatinan dan dedikasi yang tangguh.
II.4.7. Bentuk kata dalam perincian
yang tidak sejajar.
Dalam kalimat yang berisi perincian,
satuan-satuan dalam perincian itu akan lebih efektif jika diungkapkan dalam
bentuk sejajar. Jika dalam suatu kalimat perincian satu diungkapkan dalam
bentuk kerja, benda, frasa, maupun kalimat, perincian lainnya juga diungkapkan
dalam bentuk kerja, benda, frasa, maupun kalimat juga (sejajar).
Contoh kalimat yang perinciannya tidak sejajar:
·
Kegiatan penelitian meliputi
pengumpulan data, mengklasifikasikan data, dan menganalisis data.
Seharusnya:
Kegiatan penelitian meliputi pengumpulan data, pengklasifikasian data, dan
penganalisisan data.
·
Dengan penghayatan yang
sunguh-sungguh terhadap nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila dalam
kehidupan sehari-hari, kita akan dapat hidup bermasyarakat dengan selaras,
serasi, dan seimbang.
Seharusnya:
Dengan menghayati secara sunguh-sungguh terhadap nilai-nilai yang terkandung
dalam Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, kita akan dapat hidup
bermasyarakat dengan selaras, serasi, dan seimbang.
Atau:
Dengan penghayatan yang sungguh-sungguh terhadap nilai-nilai yang terkandung
dalam Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, kita akan dapat hidup
bermasyarakat dengan selaras, serasi, dan seimbang.
II.5. Kalimat Turunan
Kalimat
Turunan adalah Kalimat non inti merupakan hasil proses dari mentransformasikan
Kalimat Inti. Sebuah kalimat inti dapat ditransformasikan menjadi kalimat
transformasi atau kalimat luas dengan mengubah ciri-cirinya, tetapi dengan
tetap mempertahankan kata pada S dan P sebagai intinya.
Ciri-ciri dari kalimat turunan:
·
Bersusun / majemuk.
·
Tidak sempurna, elips.
·
Berbentuk pertanyaan atau perintah.
·
Bersifat medial, pasif dan negatif.
A. Kalimat Inti: Kakak membaca majalah.
Kalimat-kalimat di bawah ini merupakan hasil transformasi dari kalimat tersebut.
a.
Kakak membaca majalah?
b.
Kakak membaca majalah tadi.
c.
Kakak saya yang paling tua membaca
majalah tadi.
d.
Kakak tidak membaca majalah.
e.
Membaca majalah, kakak.
f.
Kakak membaca majalah saat hujan
turun dengan deras.
Kalimat a sampai dengan
f merupakan kalimat hasil transformasi dari kalimat A kakak membaca
majalah. Jika diperhatikan kalimat a sampai dengan f, memiliki inti S dan
P yang sama dengan kalimat A, S masih tetap diisi kata kakak dan P diisi
oleh kata membaca.
BAB III
PENUTUP
III.1. Kesimpulan
1. Kalimat efektif adalah kalimat
yang di susun menurut pola struktur yang benar sesuai dengan situasi yang
menyertainya. Perhatikan contoh kalimat berikut :
a. Mereka menyelesaikan dengan
meyakinkan dan baik serta dengan sangat memuaskan semua soal-soal ujian dalam
waktu Sembilan puluh menit.
Kalimat di atas berubah menjadi :
b. Mereka menyelesaikan dengan baik
semua soal-soal ujian dengan waktu Sembilan puluh menit.
2. Sebuah kalimat efektif
haruslah di susun secara sadar untuk mencapai daya informasi yang di inginkan
oleh penulis terhadap pembacanya.
3. Persyaratan-persyaratan yang perlu
di perhatikan dalam membuat kalimat efektif yaitu :
a. Kesepadanan dan kesatuan.
b. Kesejajaran bentuk-bentuk bahasa
yang di pakai.
c. Penekanan untuk mengemukakan ide
pokok.
d. Kehematan dalam menggunakan kata.
e. Kevariasian dalam struktur kalimat.
III.2. Saran
Setelah kami mempelajari hal-hal yang berkaitan dengan kalimat efektif,
ternyata tidak mudah untuk memilih pilihan kata yang tepat, sehingga membuat
kalimat yang kita gunakan bisa menjadi lebih efektif. Dengan memperhatikan
syarat syarat untuk membuat kalimat efektif seperti gramatikal, pilihan kata,
penalaran, dan keserasian, yang syarat-syarat tersebut harus diterapkan untuk
menyusun kalimat yang efektif. Sehingga kita dapat mengetahui kalimat mana yang
lebih efektif untuk digunakan dalam situasi tertentu.
Saran kami, agar tugas Dasar-Dasar Menulis yang membahas tentang kalimat
efektif ini dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin oleh pembaca. Sehingga
pembaca dapat mengerti apa saja syarat-syarat yang diperlukan untuk membentuk
suatu kalimat efektif.
DAFTAR PUSTAKA
